Info Sekolah
Kamis, 29 Jan 2026
  • MAN 1 GUNUNGKIDUL MANTAP - MANDIRI - AKHLAKUL KARIMAH - NASIONALIS - TERAMPIL - ADAPTIF - PRESTASI
  • MAN 1 GUNUNGKIDUL MANTAP - MANDIRI - AKHLAKUL KARIMAH - NASIONALIS - TERAMPIL - ADAPTIF - PRESTASI
29 Januari 2026

Rara Lembayung. 7#

Kam, 29 Januari 2026 Dibaca 1x

Cerita Bersambung Oleh : Rita Indriana Rahmawati

-=-=-=-=-

Iring-iringan tampak mengular di depan istana Kadipaten Mataram.  Paling depan terlihat beberapa orang, yang dari pakaiannya tak diragukan adalah orang-orang penting. Mereka menaiki kuda-kuda pilihan yang masih setia menanti isyarat harus mulai berjalan. Tampak  tiga kereta kuda di belakang orang-orang tersebut. Dalam kereta terdepan, seorang wanita duduk dengan resah. Segala hal yang menempel di tubuhnya menunjukkan bahwa dia menduduki posisi tertinggi dari semua wanita yang terlihat di sana. Bahasa tubuhnya menandakan bahwa wanita ini tak terbiasa menunggu. Nyai Sabinah, istri dari penguasa tertinggi Kadipaten Mataram, berkali menanyakan kepada prajurit kenapa mereka tak juga berangkat. Tak satupun dari mereka bisa memberinya informasi, hingga Ki Ageng Pemanahan,yang menunggang kuda terbaik, menghampiri kereta dimana wanita paruh baya itu berada.  Raut mukanya berubah begitu sang suami membisikkan sesuatu di telinganya. Hanya dia seorang yang mengerti apa arti perubahan ekspresi itu.

Di belakang kereta pertama ada kereta yang dihias sengan kain-kain sutera kuning yang tidak terlihat berlebihan, namun tetap tampak memesona. Kereta itu kosong. Sudah dipastikan kereta itu akan berpenumpang saat iring-iringan itu kembali nanti.

Satu kereta di belakang kereta kedua penuh berisi berbagai macam benda. Ada yang dibungkus sedemikian rupa. Hantaran untuk keluarga kemana iring-iringan itu akan menuju.

Di belakang kereta terakhir berjejer satu pleton prajurit diatas kuda-kuda mereka. Semua menatap cemas ke gapura depan, menanti kedatangan satu orang terakhir. Yang mereka nanti tak kunjung menampakkan diri, tak juga terdengar derap kaki kuda.

Yang ditunggu semua orang justru masih tercenung di dalam kamar. Iring-iringan di depan sana lebih siap daripada sang tokoh utama. Danang Sutawijaya terlihat masygul. Kalimat seseorang kemarin malam tak juga enyah dari pikirannya.

“Hamba hanyalah seorang pelayan Raden, anak dari penjaga kuda. Bagaimana mungkin hamba tega menjadi sebab pupusnya cita-cita Kanjeng Adipati. Raden adalah harapan Mataram selanjutnya.” Kalimat yang sungguh menghujam tepat di jantungnya.

Adisara, gadis yang berdiri di depan Sutawijaya memang seorang pelayan. Pelayan yang baginya demikian cerdas. Sutawijaya bisa bertukar cerita apa saja dengan gadis itu. Mulai dari masalah politik, hingga remeh temeh gosip yang berkembang di dalam tembok Kadipaten. Adisara membuatnya nyaman. Sutawijaya tak bisa tidak mengabarkan apapun yang dialaminya kepada gadis itu. Andai Adisara lahir dari keluarga ningrat, sudah pasti dia menjadi rebutan pangeran-pangeran kerajaan di Nuswantara.

Segala cara telah Sutawijaya lakukan untuk membujuk ayahnya. Semua gagal. Sutawijaya harus menikah dengan Niken Purwasari, gadis desa yang bahkan belum pernah ditemuinya. Maka kemarin malam, setelah mengecoh pengawal, pemuda itu menyelinap menemui Adisara di gudang pakan kuda, tempat selama ini mereka bertemu. Sutawijaya menawarkan untuk membawanya pergi. Jauh dari Kadipaten Mataram.

 “Jangan memanggilku Raden saat kita hanya berdua, Adisara?” Panggilan itu membuat hatiku sakit, Adisara. Panggillah aku seperti biasanya.

“Hamba tidak berani, Raden…” Belum habis kalimat Adisara, Sutawijaya sudah menariknya  ke dalam pelukan. Dibenamkannya wajahnya ke rambut gadis itu. Baunya seperti bau ibunya. Adisara adalah pelayan kesayangan Nyai Sabinah. Karena kepiawaiannya melayani, gadis itu sering mendapat hadiah mulai dari minyak rambut hingga bedak dari wanita nomor satu di Kadipaten Mataram itu.

“Hamba bisa tetap di sini, dekat dengan Raden. Bukankah itu seharusnya cukup bagi hamba?” Adisara tetap dengan posisinya, tak ada gerakan membalas pelukan. Hati Surtawijaya mencelos mendengarnya. Ya. Mereka demikian dekat, sedekat ini.  Tapi kenapa tak bisa saling memiliki.

Kepercayaan Nyai Sabinah tak cukup membuatnya mengijinkan Sutawijaya menikahi Adisara. Bagaimana bisa seorang calon Adipati Mataram menikah dengan seorang pelayan. Nyai Sabinah tetap mempertahankan gadis itu di dekatnya. Setidaknya dia selalu bisa memantau Adisara. Istri Adipati Mataram itu harus memastikn pujaan hati anaknya tak menimbulkan masalah bagi Sutawijaya. Dirinya mungkin berpikir lebih baik menjinakkan harimau di dekatnya daripada mengumbar di hutan belantara untuk nanti-nanti berpotensi menerkam.

Lima hari lalu seseorang telah diutus dan kembali membawa kabar baik. Kabar baik entah untuk siapa. Mungkin hanya Kanjeng Adipati yang benar-benar menerima itu sebagai kabar baik. Tidak bagi Nyai Sabinah. Apalagi bagi Sutawijaya. Calon penerus Mataram itu tentu saja berharap Adisara yang akan mendampinginya. Sedangkan Nyai Sabinah mempunyai calon lain dari trah keluarganya. Kanjeng Adipati menolak mentah-mentah, tetap kukuh pada pendirian. Jadi daripada Sutawijaya menikahi seorang pelayan, mau tidak mau Nyai Sabinah menerima calon menantu yang diusulkan suaminya. Kesanalah iring-iringan itu akan menuju. Menjemput calon pengantin Sutawijaya.

Utusan yang telah kembali membawa kabar, keluarga calon pengantin telah setuju pernikahan dilaksanakan di istana Kadipaten. Hari ini Rara Niken Purwosari akan dijemput untuk dipingit. Dia harus belajar tata cara kehidupan dalam istana Kadipaten selama kurang lebih satu bulan. Segalanya harus sempurna. Sutawijaya yang perkasa berdampingan dengan Niken Purwosari yang memesona, begitulah impian Ki Ageng Pemanahan. Entah bagaimana cerita masing-masing tokoh yang dia jodohkan itu bermula, Adhipati Mataram tak mau ambil pusing.

Sutawijaya tergeragap saat ayahnya membuka pintu kamar dengan tiba-tiba.

“Apa saja yang kau lakukan, wahai Raja Mataram?” Begitulah Ki Ageng pemanahan selalu memanggilnya saat mereka berdua. Menanamkan ke alam bawah sadar Sutawijaya, bahwa dirinya layak menjadi seorang Raja.

“ Bagaimana bisa aku menikahi gadis yang bahkan belum pernah kutemui, Ayahanda?” Sutawijaya justru balik bertanya kepada Ki Ageng Pemanahan.

“Kau ingin mengubur cita-citamu hanya demi seorang pelayan?” Ki Ageng Pemanahan menantang kesungguhan Sutawijaya.

Itu cita-citamu, ayah. Yang kau tanamkan tiap hari padaku, kau siram terus, kau beri pupuk terbaik, hingga aku mau tidak mau meyakini bahwa itu juga cita-citaku.

“Dia gadis yang juga cerdas Sutawijaya. Tak kalah cerdas dari Adisara. Dan yang pasti, dia keturunan ningrat. Meskipun hidup keluarganya demikian bersahaja, mereka bukan seorang pelayan.”

‘Bagaimanapun kau harus menumpahkan benih pertamamu ke rahim Niken Purwosari, Sutawijaya! Karena demikianlah tanda alam itu berkata kalau kau ingin menjadi seorang Raja.’ Ki Ageng Pemanahan seolah ingin meneriakkan kalimat itu kepada anak semata wayangnya. Dirinya terlihat gemas dengan Sutawijaya. Adhipati Mataram itu tak mau menyesal untuk kedua kalinya. Wahyu Kedhaton yang diterimanya, dan juga terima kakang seperguruannya, berbunyi sama. ‘minumlah air degan kambil emprit dalam sekali regukan!’.  Ki Kertanadi telah mereguk yang pertama dan syukurlah dia tak berminat menjadi Raja. Kambil emprit itu telah menjadi pohon dan telah menghasilkan degan baru. Kali ini Sutawijaya yang harus mendapatkannya.

“Semua orang sudah menunggumu, Sutawijaya!” Tak menunggu jawaban anaknya, Ki Ageng Pemanahan membalikkan badan dan kembali ke halaman depan.

Tinggallah kembali Sutawijaya seorang diri. Tak ada yang bisa diperbuatnya selain mengikuti langkah ayahnya. Dalam tiap langkahnya yang tetap terlihat gagah meski hatinya gamang, Sitawijaya tampak membenak.

Jika Gusti Allah menakdirkamu menjadi pendampingku, Adisara, seluruh dunia akan bersekutu untuk membantu kita. Bersabarlah! Ragaku mungkin menjadi milik wanita lain, tapi hatiku tetap untukmu.

~bersambung