Info Sekolah
Minggu, 15 Feb 2026
  • MAN 1 GUNUNGKIDUL MANTAP - MANDIRI - AKHLAKUL KARIMAH - NASIONALIS - TERAMPIL - ADAPTIF - PRESTASI
  • MAN 1 GUNUNGKIDUL MANTAP - MANDIRI - AKHLAKUL KARIMAH - NASIONALIS - TERAMPIL - ADAPTIF - PRESTASI
15 Februari 2026

Filosofi Angka Dalam Bahasa Jawa

Ming, 15 Februari 2026 Dibaca 5x

Oleh : Ki Supriyono, S.Sn.
Guru Seni Budaya MAN 1 Gunungkidul
-=-=-=-

Budaya merupakan suatu sistem menyeluruh yang mencakup ide-ide, tindakan, serta hasil karya manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang diperoleh melalui proses belajar dan dijadikan sebagai milik bersama. Ia adalah cara hidup yang tumbuh dan berkembang secara kolektif, diwariskan dari generasi ke generasi, serta meliputi nilai-nilai, kepercayaan, tradisi, bahasa, dan seni yang menjadi ciri khas suatu kelompok masyarakat. Dalam konteks budaya Jawa, bahasa Jawa menjadi salah satu produk akal budi manusia yang kemudian dilestarikan secara turun-temurun.

Bahasa Jawa sendiri termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia yang digunakan oleh masyarakat suku Jawa, utamanya di wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Ciri khas bahasa ini terletak pada sistem tingkatan bahasanya, seperti krama inggil (tingkat bahasa paling halus), krama (bahasa halus), dan ngoko (bahasa kasar atau sehari-hari). Sistem tingkatan ini juga diterapkan dalam penyebutan angka-angka dalam bahasa Jawa. Berdasarkan tingkat tuturnya, angka dalam bahasa Jawa dibedakan menjadi dua ragam: ngoko untuk situasi santai atau akrab, dan krama untuk situasi formal atau sebagai bentuk penghormatan. Sebagai contoh, angka 1 hingga 10 masing-masing memiliki sebutan siji (ngoko) dan setunggal (krama), loro dan kalih, telu dan tiga, papat dan sekawan, lima dan gangsal, serta enem, pitu, wolu, sanga, dan sepuluh (ngoko) atau sedasa (krama). Sementara itu, untuk rentang angka 21 hingga 29, penyebutannya menggunakan akhiran “likur”.

Penyebutan angka dalam Bahasa Jawa adalah sebagai berikut:

Bahasa IndonesiaBahasa Jawa NgokoBahasa Jawa Kromo
1SijiSetunggal
2LoroKalih
3TeluTiga
4PapatSekawan
5LimaGangsal
6EnemEnem
7PituPitu
8WoluWolu
9SangaSanga
10SepuluhSedasa
11SewelasSewelas
12RolasKalih welas
13TelulasTiga welas
14PatbelasSekawan welas
15LimalasGangsal welas
16NembelasNembelas
17PitulasPitulas
18WolulasWolulas
19SangalasSangalas
20Rong puluhKalih dasa
21SelikurSelikur
22Rolikurkalih likur
23TelulikurTiga likur
24PatlikurSekawan likur
25SelaweSelangkung
26NemlikurNemlikur
27PitulikurPitulikur
28WolulikurWolulikur
29SangalikurSangalikur
30Telung puluhTigang dasa
31Telung puluh sijiTigang dasa setunggal
32Telung puluh loroTigang dasa kalih
33Telung puluh teluTigang dasa tiga
34Telung puluh papatTigang dasa sekawan
35Telung puluh limaTigang dasa gangsal
36Telung puluh enemTigang dasa enem
37Telung puluh pituTigang dasa pitu
38Telung puluh woluTigang dasa wolu
39Telung puluh sangaTigang dasa sanga
40Patang puluhSekawan dasa
41Patang puluh sijiSekawan dasa setunggal
42Patang puluh loroSekawan dasa kalih
43Patang puluh teluSekawan dasa tiga
44Patang puluh papatSekawan dasa sekawan
45Patang puluh limaSekawan dasa gangsal
46Patang puluh enemSekawan dasa enem
47Patang puluh pituSekawan dasa pitu
48Patang puluh woluSekawan dasa wolu
49Patang puluh sangaSekawan dasa sanga
50SeketSeket setunggal
51Seket sijiSeket kalih
52Seket loraSeket tiga
53Seket teluSeket sekawan
54Seket papatSeket gangsal
55Seket limaSeket lima
56Seket enemSeket enem
57Seket pituSeket pitu
58Seket woluSeket wolu
59Seket sangaSeket sanga
60SewidakSewidak
61Sewidak sijiSewidak setunggal
62Sewidak loroSewidak kalih
63Sewidak teluSewidak tiga
64Sewidak papatSewidak sekawan
65Sewidak limaSewidak gangsal
66Sewidak enemSewidak enem
67Sewidak pituSewidak pitu
68Sewidak woluSewidak wolu
69Sewidak sangaSewidak sanga
70Pitung puluhPitung dasa
71Pitung puluh sijiPitung dasa setunggal
72Pitung puluh loroPitung dasa kalih
73Pitung puluh teluPitung dasa tiga
74Pitung puluh papatPitung dasa sekawan
75Pitung puluh limaPitung dasa gangsal
76Pitung puluh enemPitung dasa enem
77Pitung puluh pituPitung dasa pitu
78Pitung puluh woluPitung dasa wolu
79Pitung puluh sangaPitung dasa sanga
80Wolung puluhWolung dasa
81Wolung puluh sijiWolung dasa setunggal
82Wolung puluh loroWolung dasa kalih
83Wolung puluh teluWolung dasa tiga
84Wolung puluh papatWolung dasa sekawan
85Wolung puluh limaWolung dasa gangsal
86Wolung puluh enemWolung dasa enem
87Wolung puluh pituWolung dasa pitu
88Wolung puluh woluWolung dasa wolu
89Wolung puluh sangaWolung dasa sanga
90Sangang puluhSangang dasa
91Sangang puluh sijiSangang dasa setunggal
92Sangang puluh loroSangang dasa kalih
93Sangang puluh teluSangang dasa tiga
94Sangang puluh paparSangang dasa sekawan
95Sangang puluh limaSangang dasa gangsal
96Sangang puluh enemSangang dasa enem
97Sangang puluh pituSangang dasa pitu
98Sangang puluh woluSangang dasa wolu
99Sangang puluh sangaSangang dasa sanga
100SatusSetunggal Atus

Bahasa dan sastra Jawa kaya akan keunikan serta nilai filosofis yang terkandung dalam setiap ungkapan. Dari penyebutan angka-angka pada tabel di atas ada beberapa angka yang disebutkan secara unik. Salah satu contohnya terlihat pada cara menyebut angka-angka tertentu yang berkaitan dengan tahapan usia manusia, seperti 11, 21, 25, 50, dan 60.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, angka-angka tersebut diucapkan secara khusus: 11 disebut sewelas, 21 selikur, 25 selawe, 50 seket, dan 60 sewidang. Penyebutan ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan memiliki makna filosofis yang mencerminkan perjalanan hidup manusia.

Masyarakat Jawa meyakini bahwa setiap rentang usia merupakan fase penting dalam kehidupan, yang dilambangkan melalui penamaan angka tersebut. Berdasarkan kajian dalam jurnal berjudul Etnomatematika dalam Budaya Masyarakat Yogyakarta, berikut adalah makna di balik penyebutan angka-angka tersebut:

11 Sewelas (Duwe Rasa Welas/Memiliki Rasa Welas)
Pada rentang usia 11 hingga 19 tahun, seseorang yang memasuki masa remaja mulai menumbuhkan rasa welas asih atau kasih sayang, terutama terhadap lawan jenis.

21 Selikur (Seneng Lingguh Kursi / Suka Duduk di Kursi)
Usia ini menandai awal kedewasaan, khususnya ketika seseorang mulai memasuki dunia kerja. Frasa “suka duduk di kursi” melambangkan fase seseorang mulai menekuni pekerjaan atau profesi.

25 Selawe (Senenge Lanang lan Wedok / Kebahagiaan Laki-laki dan Perempuan)
Di usia 25 tahun, rasa cinta dan ketertarikan antar lawan jenis biasanya memasuki tahap yang lebih serius. Masa ini dianggap sebagai waktu ideal untuk melangkah ke jenjang pernikahan dan membangun rumah tangga.

50 Seket (Seneng Kethunan / Suka Berpeci)
Kata kethu merujuk pada penutup kepala yang biasa dikenakan saat beribadah. Fase ini melambangkan meningkatnya kesadaran spiritual, di mana seseorang mulai lebih mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah.

60 Sewidak (Sejatine Wis Wayahe Tindak / Sesungguhnya Sudah Waktunya Pergi)
Memasuki usia 60 tahun ke atas, kondisi fisik manusia mulai melemah dan penuh keterbatasan. Pada tahap ini, seseorang dianggap berada dalam masa penantian menjelang panggilan dari Sang Pencipta.

tradisi penyebutan angka usia dalam budaya Jawa, seperti sewelas (11), selikur (21), selawe (25), seket (50), dan sewidak (60), bukan sekadar istilah bahasa, melainkan cerminan kearifan lokal yang sarat makna filosofis. Setiap angka merepresentasikan tahapan penting dalam perjalanan hidup manusia, mulai dari tumbuhnya rasa kasih sayang di masa remaja, fase kedewasaan dan bekerja, masa persiapan berumah tangga, peningkatan spiritualitas di usia senja, hingga kesiapan menghadapi akhir kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa memandang siklus hidup sebagai sebuah proses bertahap yang bermakna, di mana bahasa berfungsi sebagai media untuk merekam dan mewariskan nilai-nilai tersebut.

Artikel Lainnya