Info Sekolah
Jumat, 06 Mar 2026
  • MAN 1 GUNUNGKIDUL MANTAP - MANDIRI - AKHLAKUL KARIMAH - NASIONALIS - TERAMPIL - ADAPTIF - PRESTASI
  • MAN 1 GUNUNGKIDUL MANTAP - MANDIRI - AKHLAKUL KARIMAH - NASIONALIS - TERAMPIL - ADAPTIF - PRESTASI
6 Maret 2026

Memaknai Lafal Iqra’ dan Relevansinya dalam Budaya Membaca

Jum, 6 Maret 2026 Dibaca 3x

Oleh : Isnu Hidayat, M.Pd.
Guru Bahasa Arab MAN 1 Gunungkidul
– =- = – = –

Seluruh umat Islam tentu tidak akan pernah lupa tentang salah satu peristiwa besar yang selalu diperingati setiap tahunnya, yaitu Nuzulul Qur’an. Saat itu nabi Muhammad menerima wahyu untuk pertama kalinya yang tertulis pada surah Al-‘Alaq ayat 1–5. Wahyu tersebut dimulai dengan kata yang sangat terkenal, yaitu Iqra’ yang berarti bacalah. Ayat ini memiliki makna yang sangat mendalam karena tidak hanya menjadi titik awal turunnya wahyu, namun juga sebagai dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam.

Kata iqra’ berasal dari bahasa Arab qara’a yang memiliki arti membaca, mempelajari, menelaah, dan memahami. Dalam konteks ini, membaca tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan melafalkan teks, tetapi juga mencakup usaha untuk memahami pengetahuan, mengkaji realitas, dan merenungkan ciptaan Allah. Para ulama menjelaskan bahwa perintah membaca dalam ayat ini bersifat luas. Umat manusia tidak hanya diminta membaca kitab suci, tetapi juga membaca alam, peristiwa, dan kehidupan. Dengan membaca, manusia dapat memeroleh pengetahuan yang akan mengantarkannya pada pemahaman mendalam tentang kehidupan dan keagungan Tuhan. Selain itu, ayat tersebut juga menegaskan bahwa aktivitas membaca harus disertai lafal bismi rabbika atau dengan menyebut nama Tuhan. Artinya, proses mencari ilmu harus dilandasi dengan niat yang baik dan bertujuan untuk kebaikan.

Perintah iqra’ menjadi fondasi bagi lahirnya tradisi keilmuan dalam peradaban Islam. Sejak masa awal Islam, umat Muslim dikenal sebagai masyarakat yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Hal ini tercermin dalam berkembangnya berbagai bidang ilmu seperti tafsir, hadis, filsafat, kedokteran, matematika, dan astronomi. Semangat membaca dan menulis pada masa itu mendorong lahirnya banyak karya ilmiah dan pusat-pusat pembelajaran. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa membaca merupakan pintu awal menuju kemajuan peradaban.

Dalam konteks kehidupan modern, pesan iqra’ menjadi sangat relevan. Budaya membaca memiliki peran penting dalam membentuk masyarakat yang cerdas dan kritis. Melalui membaca, seseorang dapat memeroleh informasi, memperluas wawasan, serta mengembangkan kemampuan berpikir. Agar pesan iqra’ benar-benar terwujud dalam kehidupan, budaya membaca perlu ditumbuhkan sejak dini. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan tersebut. Oleh karena itu, membangun budaya membaca merupakan upaya nyata untuk mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam wahyu pertama tersebut. Dengan membaca, manusia dapat memperluas wawasan, meningkatkan kualitas diri, dan berkontribusi dalam membangun peradaban yang lebih baik.

Semangat iqra’ hendaknya menjadi inspirasi bagi kita semua untuk membangun budaya membaca dalam kehidupan sehari-hari. Mulailah dari langkah sederhana, seperti meluangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk membaca buku, artikel, atau karya lain yang bermanfaat. Mari kita jadikan membaca sebagai kebiasaan yang menyenangkan dan bermakna. Dengan membaca, kita tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka pintu menuju masa depan yang lebih cerah. Jika setiap orang mulai membiasakan diri membaca, maka akan lahir masyarakat yang lebih cerdas, kritis, dan berkualitas.