
Perjalanan dari istana Kadipaten Mataram ke Desa Giring menyiksa Sutawijaya. Pemuda itu seolah digiring menuju peperangan akbar. Keberangkatannya menyertai Ki Ageng Pemanahan menaklukkan pemberontakan Arya Penangsang kepada Pajang beberapa tahun lalu, bahkan tak terasa seperti ini. Kali ini dia menghadapi perang yang berbeda. Sutawijaya harus memerangi dirinya sendiri.
Rumah pertama desa yang dituju telah terlihat. Di pinggir jalan, berderet-deret orang menonton. Laki-laki perempuan berdesakan ingin mendapat tempat paling depan. Begitu rombongan itu lewat anak-anak berlarian mengikuti dari belakang. Tak satupun dari anak-anak itu terlihat mengenakan alas kaki. Mungkin ini kali pertama penduduk Giring melihat iring-iringan seindah itu. Belum menikah saja, Rara Lembayung sudah dijemput dengan demikian meriah, bagaimana nanti setelah gadis itu benar menjadi menantu seorang Adipati, mungkin itu yang mereka pikirkan.
Satu persatu rombongan dari kadipaten memasuki halaman rumah Ki Kertanadi. Tak banyak perubahan yang dilakukan pada rumah sederhana itu. Hanya halaman yang kemarin-kemarin penuh dengan daun mahoni terlihat bersih. Sang tuan rumah telah menyambut di depan pintu, tetap dalam kebersahajaannya.
Setelah Ki Ageng Pemanahan turun dari tunggangan dan memeluk erat calon besannya, tuan rumah mempersilakan rombongan agung itu masuk. Rumah Ki Kertanadi luas, meski tetap sederhana. Tikar-tikar pandan telah digelar diantara tiang-tiang rumah limasan. Para sesepuh dan warga desa sudah siap duduk untuk menjadi saksi acara penting itu.
Rumah limasan terdiri dari lima gawangan. Dalam suatu jamuan atau perhelatan, antara dinding rumah paling kanan dengan dua tiang pertama adalah tempat untuk para pejabat, orang-orang yang menduduki posisi tinggi. Setelah tempat pertama penuh, diikuti orang-orang dengan posisi yang berada di bawah posisi tertinggi duduk di gawangan selanjutnya, hingga gawangan paling kiri adalah tempat bagi mereka rakyat biasa. Ki Ageng Pemanahan duduk bersila di gawangan pertama. Diikuti Nyai Sabinah yang terlihat tak nyaman dengan segala hal di dekatnya.
Rumah itu penuh. Sutawijaya mengedarkan pandangan. Belum dilihatnya seseorang yang dirasanya layak menyandang nama Niken Purwosari. Seperti apakah gadis yang akan menjadi pendampingnya itu? Sebandingkah dia dengan Adisara? Mengingat nama pujaannya, dalam acara pertunangan ini sudah membuat Sutawijaya merasa berkhianat. Padahal tak pernah sekalipun nama itu akan hilang dari hatinya. Artinya sepanjang kehidupan rumah tangga dengan Rara Niken Purwosari, sepanjang itu pula Sutawijaya akan merasa berkhianat pada istrinya.
Nampan-nampan berisi minuman dibawa oleh para sinoman dari arah dapur. Gadis-gadis berkebaya hijau berjalan di belakang para pemuda itu. Hanya satu yang terlihat beda. Gadis paling depan dalam rombongan para sinoman itu berkebaya putih. Begitu tiba di ruang utama, para sinoman itu berjongkok. Gadis berkebaya putih mengikuti pemuda di depannya menuju gawangan tempat Sutawijawa duduk dengan orang tuanya. Gadis itu luwes laku dodok, berjalan sambil berjongkok. Menjura sebelum menurunkan minuman pada setiap tamu di hadapannya. Hingga sampai di depan Sutawijaya, gadis itu sengaja mengangkat muka. Cukup dua detik mata Gadis itu memandang bayangan Sutawijaya. Lalu dia berlalu begitu saja.
Sutawijaya sudah bisa menduga siapa gadis berkebaya putih itu. Dialah Niken Purwosari, calon istrinya. Gadis yang dipuji ayahnya sedemikian rupa. Sutawijaya mengakui, gadis itu memang berbeda. Dia berpikir akan menemukan wanita yang girang setengah mati karena diperistri calon penerus Mataram. Nyatanya, dalam dua detik pandangan mata mereka bertemu, Sutawijaya tak menemukan tanda itu. Berbeda dengan mata Adisara yang berbinar setiap melihatnya, gadis itu tak tertebak. Hanya ada sebuah keteguhan di sana. Tak ada yang lain.
Memandang Niken Purwosari yang beranjak berdiri dari laku dodoknya, mau tak mau Sutawijaya membandingkan dengan gadisnya. Adisara sejengkal lebih pendek dari pada gadis itu. Putri Ki Kertanadi berkulit bak buah langsat, berbeda dengan Adisara yang seperti gula jawa, hitam tetapi manis. Trah ningrat yang mengalir dalam darah Niken Purwosari jelas terpancar meskipun gadis itu hidup di pedesaan yang dikelilingi bukit-bukit gersang. Meski kebaya yang dikenakannya masih kalah bagus dari kebaya yang biasa dikenakan Adisara, ukuran kebaya pelayan istana Kadipaten, aura anggun yang memikat seolah menyihir Sutawijaya hingga gadis itu berlalu di hadapannya. Hanya perlu waktu dua detik bagi penerus Mataram itu untuk menyadari, Niken Purwosari tak akan menjadi seperti keinginan ayahnya. Gadis itu terlalu kuat. Alih-alih mendukungnya menjadi Raja yang hebat, dia justru akan mencuri perhatian semua orang dari dirinya. Saat itu juga Sutawijaya menilai perjodohan ini adalah hal yang salah.
***
“Air hangat sudah hamba siapkan. Silakan Rara membersihkan diri sebelum istirahat!” Seorang pelayan muda setengah membungkuk di hadapan Lembayung. Usia mereka sepertinya tak terpaut jauh.
“Tidak perlu membungkuk begitu!” Lembayung buru-buru memegang bahu gadis itu untuk menegakkan badannya.
“Baju ganti akan hamba siapkan selama Rara mandi,” ucap gadis itu.
“Aku bisa memakai bajuku sendiri, kau tak perlu repot menyiapkannya. Aku tidak terbiasa dilayani seperti ini.” Lembayung memotong kalimat pelayan di depannya. Dalam sekejap, Lembayung menyukai gadis itu.
“Hamba sama sekali tidak repot, Rara. Jika Rara menolak, justru akan menjadi masalah untuk hamba.” Gadis di depannya dengan rusuh mengangkat muka sambil menggeleng-gelengkan kepala. Barulah Lembayung dapat melihat tatapan yang mengiba. Dengan tinggi sejengkal lebih rendah daripada dirinya, gadis hitam manis itu sedikit mendongkak agar tatapan mata mereka bertemu.
“Baiklah. Aku datang ke sini bukan untuk menyulitkan banyak orang.” Lembayung akhirnya beranjak dari tempatnya menuju bilik mandi dimana air hangat sudah disiapkan.
“Oh, iya. Bagaimana aku harus memanggilmu?” Lembayung membalikkan badan sesaat sebelum keluar dari pintu. Memandang pelayan barunya.
“Adisara. Nama hamba Adisara, Rara.”
“Nama yang indah, Adisara.” Lembayung tersenyum sebelum benar-benar meninggalkan gadis itu sendirian.
Bahu Adisara melorot diikuti dengan nafas yang memburu. Dia mencoba mengendalikan tangannya yang gemetar. Air sudah leleh di pipinya. Sejak Nyai Sabinah tahu bahwa anaknya menyukai Adisara, gadis itu merasakan hawa permusuhan dari junjungannya. Tapi selama itu, Adisara masih nyaman bekerja. Hingga sesaat setelah kedatangan rombongan yang membawa calon pengantin Sutawijaya memasuki istana kadipaten, Adisara bagai disambar petir. Nyai Sabinah memintanya menjadi pelayan Niken Purwosari.
Bagaimana bisa Adisara mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengan calon istri Sutawijaya itu tanpa hatinya merasa sakit. Belum ada setengah jam dirinya bertemu dengan Niken Purwosari, Adisara merasa telah kehilangan segala hal yang dia banggakan dalam dirinya. Sutawijaya selalu memuji kecantikannya. Tapi kecantikannya seolah tertelan aura Rara Niken Purwosari, begitu mereka berhadapan.
Adisara tak tahu, berapa lama junjungan barunya biasa mandi. Masih dengan tangan yang bergetar dia membuka lemari yang di dalamnya telah dia siapkan begitu banyak baju, seperti perintah Nyai Sabinah, lalu mengambil salah satu yang sekiranya nyaman dipakai tidur.
Adisara hendak meninggalkan kamar ketika dilihatnya Rara barunya masuk dengan rambut basah. “Hamba akan keluar selama Rara mengganti baju. Setelah itu hamba akan meminyaki dan menyisir rambut Rara.”
“Bisakah kau tunjukkan padaku di mana minyak yang kau maksud? Aku akan meminyaki rambutku sendiri.” Lembayung duduk di depan meja rias. Membuka-buka laci di depannya.
“Tidak. Jangan, Rara. Nanti hamba……”
“Akan mendapat masalah?” Lembayung kembali memotong kalimat Adisara.
“Baiklah begini saja. Aku akan menurut apa maumu tapi aku punya syarat.” Lembayung melanjutkan kalimatnya.
“Aku tak mengenal siapapun di istana ini. Kaulah orang pertama yang mau beramah-tamah denganku. Kita bisa menjadi teman, Adisara.” Lembayung menjelaskan maksudnya. Lembayung mengulurkan tangannya kepada Adisara.
Adisara ragu-ragu. Tak ada seorang dengan kedudukan lebih tinggi mengulurkan tangan padanya, kecuali Sutawijaya.
“Kalau kau setuju dengan syaratku, aku tak akan membuatmu mendapat masalah dari Nyai Ibu.” Lembayung tersenyum meyakinkan.
“Teman?” Lembayung meyakinkan.
Masih dengan ragu Adisara megulurkan tangannya. Apakah mereka berteman sekarang? Dia berteman dengan calon istri Sutawijaya?
Adisara meninggalkan kamar Lembayung masih dengan hati kosong. Dirinya tak bisa berpikir. Apa yang akan dilakukannya menghadapi ‘teman’ barunya itu.
Lembayung termangu kemudian. Calon pengantin Sutawijaya itu mengira, air matanya telah kering seminggu lalu, ketika kudanya tak mampu mengejar kuda Wira Saksana yang berderap meninggalkan desa tanpa keraguan. Saat berpamitan dengan keluarganya pun, sesaat sebelum kereta kuda membawanya pergi ke istana kadipaten, hati Lembayung terasa kebas. Tak ada sedu sedan. Tapi malam ini, begitu dia sendirian di tempat yang sama sekali tak dikenal, air ternyata masih bisa mengintip di pelupuk mata gadis itu. Lembayung harus menghadapi semuanya seorang diri sekarang. Kehidupan yang damai telah tercerabut darinya. Seguk dari tenggorokannya tak dapat Lembayung atasi. Akhirnya dia membenamkan wajah pada bantal. Menghabiskan malam pertama di istana kadipaten dengan tangis tertahan.